KEPEMIMPINAN YANG BERTUMBUH BERSAMA FASE SEKOLAH

Resume oleh : Dr. Abdul Teddy Rahman, M.Pd. (Kabid Pendidikan YMJAY)
Dari People Power Menuju System Power yang Humanis
Setiap sekolah adalah organisasi hidup yang bertumbuh. Ia lahir, belajar berjalan, menemukan irama, lalu memasuki fase kedewasaan. Seiring pertumbuhan itu, kepemimpinan tidak bisa berhenti pada satu gaya. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang mampu menyesuaikan diri dengan fase organisasi, bukan sekadar mengandalkan kekuatan personal.
Dalam perspektif kepribadian klasik, dikenal empat tipe kepemimpinan: koleris, sanguinis, plegmatis, dan melankolis. Keempatnya bukan untuk dipilih salah satu, melainkan dipahami dan ditempatkan secara proporsional sesuai kebutuhan fase pertumbuhan sekolah.
Fase Mendirikan: Kepemimpinan Koleris sebagai Penggerak Awal
Pada fase mendirikan, sekolah berada dalam kondisi serba terbatas. Sistem belum terbentuk, sumber daya minim, dan ketidakpastian tinggi. Dalam situasi ini, kepemimpinan koleris sangat dibutuhkan. Pemimpin koleris dikenal tegas, berani mengambil keputusan, berorientasi tujuan, dan sanggup memikul beban besar sendirian.
Kekuatan utama tipe ini terletak pada keberanian melangkah dan ketegasan arah. Namun di balik kekuatannya, kepemimpinan koleris memiliki keterbatasan: kecenderungan dominan, kurang sabar pada proses, dan risiko kelelahan tim. Karena itu, kepemimpinan koleris idealnya menjadi pemantik awal, bukan gaya permanen.
Fase Membangun: Kepemimpinan Sanguinis yang Menghidupkan Organisasi
Ketika sekolah mulai berkembang, jumlah guru bertambah, dan struktur mulai terbentuk, tantangan utamanya adalah menyatukan banyak karakter dalam satu tujuan. Pada fase ini, kepemimpinan sanguinis menjadi sangat relevan. Pemimpin sanguinis memiliki kemampuan komunikasi yang kuat, mampu membangun suasana positif, dan menguatkan semangat kolektif.
Kekuatan kepemimpinan sanguinis terletak pada relasi dan energi. Namun kelemahannya adalah kurangnya konsistensi eksekusi, minim perhatian pada detail, serta risiko keputusan yang terlalu emosional. Oleh karena itu, fase membangun memerlukan keseimbangan antara people power yang hangat dan awal pembiasaan sistem kerja.
Fase Mengelola: Kepemimpinan Melankolis dan Kematangan Sistem
Memasuki fase mengelola, sekolah tidak lagi dapat bergantung pada figur semata. Organisasi menuntut stabilitas, konsistensi, dan mutu yang terjaga. Di sinilah kepemimpinan melankolis berperan. Pemimpin melankolis dikenal sistematis, teliti, dan berorientasi pada kualitas.
Kekuatan tipe ini terletak pada kemampuan membangun dan menjaga sistem. Evaluasi dilakukan berbasis data, standar mutu dijaga, dan keputusan diambil dengan pertimbangan matang. Namun kepemimpinan melankolis juga memiliki keterbatasan: kecenderungan terlalu hati-hati, lambat mengambil keputusan, dan kesan kaku.
Karena itu, fase mengelola menuntut penerapan system power yang humanis. Sistem hadir bukan untuk menekan, melainkan untuk melindungi dan menumbuhkan. Aturan jelas, pelaksanaan adil, dan komunikasi tetap berlandaskan empati.
Fase Scale Up: Kepemimpinan Visioner yang Adaptif dan Berani
Pada fase scale up, sekolah menghadapi tantangan baru: pertumbuhan cepat, ekspansi layanan, dan peningkatan kompleksitas. Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu berpikir di luar kebiasaan, cepat belajar, dan berani mengambil keputusan strategis.
Di fase ini, keberanian ala koleris kembali dibutuhkan, tetapi dalam bentuk yang lebih matang dan reflektif. Pemimpin tidak hanya berani melompat, tetapi juga cepat mengoreksi arah. Namun agar pertumbuhan tidak kehilangan keseimbangan, karakter plegmatis menjadi penyeimbang penting.
Kepemimpinan plegmatis membawa ketenangan, stabilitas, dan kemampuan melihat gambaran besar. Kelemahannya adalah kecenderungan terlalu aman dan lambat merespons peluang. Oleh karena itu, fase scale up menuntut kombinasi keberanian dan kebijaksanaan, kecepatan dan kehati-hatian.
Dari People Power ke System Power yang Humanis
People power adalah kekuatan awal yang menghidupkan sekolah. Namun ketika organisasi tumbuh, ketergantungan pada figur justru menjadi risiko. Sekolah yang dewasa membutuhkan system power yang kokoh dan manusiawi.
System power yang humanis berarti aturan yang jelas namun empatik, disiplin yang adil, dan sistem yang melayani manusia, bukan sebaliknya. Sistem menjadi penopang keberlanjutan, sementara manusia tetap menjadi pusat nilai dan makna.
Comments
No comment yet.